You are here
Home > Artikel > Ulasan Mendalam – Mirrorless VS DSLR

Ulasan Mendalam – Mirrorless VS DSLR

Mirrorless-vs-DSLR

Kamera DSLR secara desain mempunyai kelemahan dan keterbatasan yang melekat. Mengapa? Karena pada kenyataannya kamera SLR dibuat untuk media film. Saat era digital berkembang, SLR masih diperlakukan untuk kebutuhan film tersebut dan dibuat dengan body menggunakan sistem mekanik yang sama. Yang berubah adalah sirkuit di dalamnya untuk kebutuhan sensor digital dan perangkat elektronik lainnya. Selain juga tambahan LCD dan media simpan, sisa komponen lainnya tidak berubah. Seperti mirror mekanik, optikal viewvinder dan sistem deteksi untuk autofocus.

Saat teknologi baru terus berkembang seperti penambahan fitur kamera seperti editing di kamera, HDR, GPS, Wifi dsb, DSLR tetap berukuran besar untuk beberapa alasan. Pertama, mirror dalam DLSR kamera tetap berukuran sama dengan sensor digital, sehingga memakan banyak tempat. Kedua, prisma yang berfungsi untuk mengubah cahaya vertikal ke horisontal di viewvinder juga sesuai dengan besarnya mirror, menjadi sebab utama kamera DSLR tetap berukuran besar.

Terakhir, hal tersebut juga dikarenakan pabrikan menjaga agar lensa yang telah ada tetap kompatibel dengan kamera digital, sehingga transisi dari film ke digital tidak memakan biaya besar atau membatasi konsumen.

  1. Kekurangan DSLR

    Karena ketergantungan mirror dari DSLR untuk melihat melalui lensa tersebut, menyebabkan beberapa kekurangan DLSR di antaranya sebagai berikut:

    1. Ukuran and Ketebalan: Karena mirror dan prisma membutuhkan tempat, maka DSLR akan selalu membutuhkan body kamera yang besar dan bagian atas yang menonjol. Viewvinder juga harus terletak di tempat yang sama di setiap kamera DSLR, karena harus sejajar dengan garis optikal dan sensor digital. Karena tidak ada tempat lain untuk meletakkan viewinder tersebut, maka jika diperhatikan body setiap kamera DSLR pada dasarnya sama.
    2. Berat: Ukuran yang besar dan tebal tersebut berpengaruh terhadap berat. Walaupun kebanyakan dari DSLR entry level berbahan plastik dan komponen di dalamnya dibuat ringan, namun tetap saja dibutuhkan tinggi minimum dan juga tebalnya untuk menampung mirror + prisma. Tidak mungin membuat body super tipis untuk mengurangi berat dan ukuran menjadi lebih tipis dan ringan. Selain itu,  lensa DSLR juga berukuran besar dan berat, menyebabkan kamera DSLR sulit untuk dibuat ringan dan kecil.
    3. Mirror yang Komplek and Desain Shutter : setiap kamera digunakan maka mirror akan bergerak ke atas dan kebawah untuk memasukkan cahaya ke dalam sensor, hal ini mengakibatkan beberapa masalah:
      • Pergerakan Mirror : pergerakan mirror tersebut membuat suara berisik dan menyebabkan kamera bergetar. Walaupun  pabrikan telah merancang agar pergerakan suara ini tidak terlalu berisik, namun tetaplah suara tersebut tidak dapat hilang. Sedangkan getaran kamera juga menyebabkan masalah saat memotret slow speed. Adanya fitur “Mirror Lock-Up” dan “Exposure Delay” cukup mampu mengurangi getaran.
      • Pergerakan Udara: pergerakan mirror ke atas dan kebawah akan menggerakan udara di dalam kamera. Mengakibatkan debu dan kotoran ikut terbawa ke dalam kamera dan menempel di dalam sensor.
      • Frame Speed Terbatas: pergerakan mirror tersebut menyebabkan pula kecepatan memotret membutuhkan waktu lebih. Sebagai contoh,  saat Nikon D4 memotret 11 frame/detik, mirrornya juga akan bergerak naik turun sebanyak 11 kali  dalam satu detik dan shutter akan membuka dan menutup di antara waktu tersebut. Jadi membutuhkan sinkronisasi yang sempurna antara mirror dan shutter.
      • Sistem mekanik DSLR sangat komplek dan terdiri dari berbagai macam bagian. Oleh karena itu, sangat mahal dalam proses pembuatan dan juga mahal dalam pengerjaan perbaikan apabila terjadi kerusakan. Membongkar DLSR dan mengganti komponen merupakan pekerjaan sulit dan tidak dapat dikerjakan oleh sembarang orang.

Bersambung..

Komentar

comments

Similar Articles

Leave a Reply

Top