You are here
Home > Artikel > 10 Cara Setting Kamera yang Harus Diketahui Fotografer Pemula

10 Cara Setting Kamera yang Harus Diketahui Fotografer Pemula

Kamera DSLR dilengkapi dengan  menu, kontrol dan berbagai pilihan kustom yang di desain untuk memudahkan fotografer. Namun pada kenyataannya terkadang justru fasiltas-fasilitas tersebut malah membingungkan fotografer pemula.

Berikut ini akan dibahas berbagai hal dasar yaitu 13 cara setting kamera yang harus diketahui oleh fotografer pemula.

1. Aperture Priority untuk mengontrol Depth of Field (DoF)

aperture-priority-setting

Aperture adalah bukaan (exposure) dalam lensa, atau biasa disebut dengan diafragma (f).  Fungsi dari diafragma ini adalah untuk mengatur besar kecilnya cahaya masuk ke dalam sensor kamera. Dalam aturan exposure, besar kecilnya aperture akan berpengaruh kepada kedalaman gambar (depth of field). Ada banyak situasi dimana Anda ingin mengedepankan ketajaman gambar dalam sebuah foto seperti saat memotret lanscape, dimana bagian foreground dan backgroundnya tajam semua. Berbeda halnya saat Anda memotret Portrait orang, Anda gunakan DoF kecil agar orang yang difoto terpisah dari background.

Untuk memudahkan hal tersebut, Anda dapat menggunakan mode Aperture Priority. Pada tombol kamera biasanya tertulis Av atau A. Aperture Priority adalah mode semi-otomatis: Anda mengontrol aperture dan kamera akan mengatur settingan lainnya.

Pilihlah Aperture kecil (dilambangkan oleh angka f besar seperti f/11 dan f/16) untuk menaikkan Dof dan pilih Aperture besar (dilambangkan oleh angka f kecil seperti f/2.8 dan f/4) untuk mengurangi DoF.

2. Shutter Priority untuk Subjek Bergerak

shutter

Shutter speed bertugas untuk mengontrol berapa lama sensor kamera akan terbuka dan membiarkan cahaya masuk melalui bukaan lensa. Untuk mengatur pencahayaan yang konsisten, penentuan besaran shutter speed harus seimbang dengan pilihan besaran Aperture.

Sebagai contoh, jika Anda mengubah ukuran dari Aperture besar (angka f kecil) ke aperture kecil (angka f besar)  untuk meningkatkan Dof, akan berpengaruh dengan jumlah cahaya yang masuk ke lensa. Jika Anda menginginkan pencahayaan yang sama, Anda harus menurunkan shutter speed sehingga sensor kamera akan terbuka lebih lama dan gambar lebih terang.

Jika Anda menggunakan  aperture besar (angka f kecil) untuk membuat background menjadi blur, akibatnya adalah semakin banyak cahaya yang masuk, untuk itu Anda harus menggunakan shutter speed tinggi agar sensor kamera tidak terlalu banyak cahaya karena hanya terbuka sebentar.

Pilihan Shutter Speed akan berpengaruh bagaimana subject akan tampak di dalam foto. Shutter Speed tinggi akan membuat gambar seperti berhenti (freeze). Shutter speed rendah akan membuat gambar tampak blur.

Jika memotret foto bergerak sebagai fokus utama, seperti mobil lewat atau memotret pemandangan dengan bukaan lama (long exposure)- gunakan mode Shutter Speed Priority. Pada tombol biasanya dilambangkan dengan Tv atau S. Seperti Aperture Priority, ini adalah mode semi otomatis. Anda pilih Shutter speed-nya berapa, dan kamera akan mengatur settingan lainnya.

3. Setting Shutter Speed agar bebas gonjangan (shake)

camera-shake

Hal ini sering menjadi pertanyaan, berapa angka shutter speed saat kita memotret tanpa menggunakan alat bantu (handheld)? Cara termudah adalah menyamakan dengan panjang lensa yang kita gunakan. Sebagai contoh, jika menggunakan lensa 200mm, minimum shutter speednya adalah 1/200sec, demikian juga misalnya menggunakan lensa 28mm minimumnya 1/30sec (angka shutter speed paling mendekati) agar dapat menghasilkan gambar yang tajam. Jika shutter speed dibawah dari perhitungan di atas, kamera kemungkinan akan goyang dan hasil foto akan blur.

Namun demikian, pengalaman dan jam terbang memotret sangat berpengaruh terhadap kestabilan tangan Anda memegang kamera. Jika Anda fotografer pemula, cara menghitung seperti di atas sangat dianjurkan.

[nextpage title=”Selanjutnya”]

4. Setting ISO untuk pencahayaan rendah

CAMERA_ISO_80-1600

ISO menentukan seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya. Pada settingan rendah, seperti ISO 100 dan 200, kamera akan kurang sensitif terhadap cahaya sehingga cocok digunakan untuk kondisi cahaya terang.

Pada settingan yang lebih tinggi seperti ISO 3200 dan 6400, kamera lebih sensitif terhadap cahaya  dan cocok digunakan untuk pencahayaan kurang. Saat Anda memotret dalam kondisi ini, Anda tidak dapat menggunakan bukaan kecil (angka f besar), atau shutter speed tinggi untuk menghasilkan gambar yang tajam. Disinilah saatnya Anda menggunakan settingan ISO.

Dengan memilih ISO yang lebih tinggi, Anda dapat mengatur sinyal sensor. Setiap besaran ISO digandakan, Anda telah melakukan penambahan sebesar 1 stop. Jadi dengan menaikan ISO 100 ke ISO 200 misalnya,  berarti ISO bertambah 1 stop. Demikian seterusnya.

Setting ISO terbaik adalah ISO rendah, karena ISO tinggi juga akan menambah noise (grain).  Cobalah perhatikan kualitas foto dengan ISO 1600 keatas, hasilnya pasti kurang tajam dan kemungkinan noise. Tetapi lebih baik noise dari pada tidak ada gambar sama sekali bukan?

5. Auto ISO

13-camera-settings-05-auto-iso

Selain menggunakan setting ISO manual, Anda dapat menyerahkan ke kamera untuk memilih ISO yang sesuai. Pada menu di kamera pilihlah Auto ISO, maka kamera akan otomatis menyesuaikan sensitifitas terhadap kondisi cahaya. Kamera akan membaca shutter speed yang Anda gunakan. Anda juga dapat menentukan batas maksimal ISO yang akan dipilih kamera saat mode otomatis tersebut agar hasil foto tidak terlalu noise karena kamera memilih ISO yang terlalu tinggi.

6. Setting  metering mode

in-camera-meters-1329363837

Seperti diketahui, kamera digital mempunyai tiga setting metering, Pattern, centre-weighted and dan spot metering. Pada setting bawaan pabrik biasanya di-set pada mode pattern metering.  Pada kamera Canon biasanya disebut evaluative metering, sedangkan pada Nikon disebut matrix metering, tetapi pada prinsipnya sama. Kamera akan membagi seluruh gambar menjadi beberapa bagian, kemudian  menentukan tingkat terang cahaya disetiap bagian tersebut, membandingkan hasilnya dan menentukan bukaannya (kombinasi bukaan, shutter speed dan ISO, akan tergantung dengan mode shooting yang Anda pilih).

Mode pattern metering termasuk cepat dan biasanya tepat, namun terkadang masih tertipu dengan pencahayaan yang terlalu terang atau gelap.

Sedangkan centre-weighted metering mengukur cahaya terang ke seluruh frame, namun akan memberikan prioritas pada frame bagian tengah. Mode ini bagus untuk foto portrait. Jika subjek yang difoto tidak berada di tengah, maka pencahayaan dapat meleset. Direkomendasikan untuk fotografer pemula untuk menghindari spot metering dulu.

[nextpage title=”Selanjutnya”]

7. Menggunakan exposure compensation

13-camera-settings-07-exposure-compensation

Jika foto terlihat terlalu terang atau terlalu gelap, Anda dapat menggunakan exposure compensation. Anda dapat mengaktifkan fitur ini melalui tombol cepat kamera bertanda “+/-“. Putar pengatur maka akan terlihat indikator angka pada bagian bawah viewvinder atau pada monitor lcd. Jika Anda memutar ke arah + maka gambar yang akan dihasilkan akan lebih terang, demikian juga sebaliknya. Jangan lupa untuk mengembalikan ke angka 0 setelah selesai memotret, agar anda tidak mendapat masalah exposure di foto yang lain.

 

Berapa exposure compensation yang cocok untuk sebuah foto? Anda dapat melakukan uji coba, namun jika Anda mau mempelajari histogram akan lebih mudah.

8. Melihat data Histogram

histogram

Anda tidak dapat menilai pencahayaan yang tepat hanya melalui LCD kamera. Terkadang LCD mempunyai cahaya terlalu terang atau gelap sehingga tidak akurat. Anda dapat menggunakan histogram pada LCD untuk melihat komposisi sebuah foto apakah sudah tepat atau belum.

 

Histogram menampilkan informasi pencahayaan dalam sebuah grafik, jadi Anda dapat menilai apakah sebuah foto itu terlalu gelap (underexposed) atau terlalu terang (overexposed).

9. Kualitas gambar: RAW vs JPEG

raw jpg

Secara default, kamera DLSR menggunakan kualitas  pada mode JPEG. JPEG merupakan format universal, membuat Anda mudah membagikan foto. Hanya masalahnya, pada JPEG adalah kompresi pada format tersebut. Ada beberapa informasi yang hilang. Namun demikian akan sulit untuk menentukan bagian mana yang hilang pada setting JPEG tertinggi.

File RAW sebenarnya bukan file gambar, tetapi sebuah file yang berisi informasi raw dari sebuah kamera. Gambar yang Anda lihat pada layar LCD adalah JPEG preview, Anda membutuhkan program konversi sebelum dapat dibaca oleh berbagai gambar pengolah gambar. Kelebihan pada file RAW adalah belum dikompresi, sehingga akan memberikan gambar dengan kualitas terbaik. Juga memungkinkan Anda untuk mengolah exposure, merubah setting lain seperti white balance dan lainnya.

[nextpage title=”Selanjutnya”]

10. Presets White Balance

white-balance-settings-display

Setting White balance akan memberikan pemilihan warna yang akurat dengan kondisi berbagai macam sumber pencahayaan. Menggunakan mode otomatis biasanya telah menghasilkan gambar yang bagus. Namun demikian, Auto White Balance dapat juga melalukan kesalahan. Biasanya akan menghasilkan foto dengan warna yang natural padahal saat memotret terdapat lampu buatan dengan warna yang tidak biasa.

 

Untuk memperbaiki hal tersebut, gunakan preset white balance yang cocok untuk menyesuaikan situasi saat Anda memotret. Gunakan mode Live View agar Anda dapat melihat secara langsung hasil penggunaan preset yang Anda pilih. Alternatif lain, gunakan RAW Picture Quality agar Anda dapat mengatur ulang white balancenya.

 

 

 

Komentar

comments

Similar Articles

Leave a Reply

Top